Tuesday, 4 August 2009

CARA MENGUNJUNGI SURGA

Rasulullah SAW bersabda, ''Barangsiapa menjenguk orang sakit, maka ia tak henti-hentinya dalam keadaan mengunjungi surga sampai ia pulang.''Bisakah kita mengunjungi surga sedangkan keberadaannya tak terlihat mata, tidak terdengar telinga, dan tak tergambar oleh akal ? Bagaimana mungkin kita dapat mengunjungi surga yang berada di alam gaib ?

Dalam Isra Mi'raj, Rasulullah SAW memang pernah mengunjungi surga dan menyaksikan para penghuninya. Tapi, kita bukan rasul, bukan pula nabi. Jadi, bagaimana bisa mengunjungi surga yang kita rindukan itu ? Sebenarnya, ada beragam cara yang ditunjukkan Allah SWT kepada hamba-Nya agar bisa mencapai surga. Di antara cara yang ditunjukkan Allah SWT adalah dengan menjenguk orang sakit serta memberi makan dan minum kepada hamba-Nya yang membutuhkan.

Dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan, Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya pada hari kiamat, Allah 'Azza wa Jalla berfirman, 'Hai anak Adam, Aku sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku'.'' Dia berkata, ''Wahai Rabbku, bagaimana aku menjenguk-Mu, padahal Engkau adalah Rabb semesta alam ?''

Dia berfirman, ''Tahukah kamu bahwa hamba-Ku si fulan, sakit, tapi kamu tidak mau menjenguknya. Tahukah kamu, jika kamu menjenguknya, kamu akan mendapati Aku berada di sisinya.'' ''Hai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tapi kamu tidak mau memberi makan kepada-Ku.'' Dia berkata, ''Wahai Rabbku bagaimana aku memberi makan kepada-Mu, sedangkan Engkau adalah Rabb semesta alam ?''

Dia berkata, ''Tidakkah kamu tahu bahwa ada seorang hamba-Ku, si fulan, minta makan kepadamu, tapi kamu tidak memberi makan kepadanya ? Tidakkah kamu tahu bahwa jika kamu memberi makan kepadanya, kamu akan mendapati hal itu di sisi-Ku ?''

Berdasarkan hadis tersebut, jelaslah bahwa siapa pun yang menjenguk orang sakit, sesungguhnya ia sedang mengunjungi Surga sampai ia pulang.

Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah SAW ditanya, ''Wahai Rasulullah, apa maksud dalam keadaan mengunjungi Surga?'' Beliau menjawab, ''Yaitu memetik buah Surga''. Itulah sebagian kemuliaan yang Allah SWT berikan kepada para hamba-Nya di dunia. Seorang hamba yang menjenguk orang sakit, memberi makan dan minum kepada hamba-Nya yang membutuhkan, akan mendapatkan pahala, rahmat, dan kemuliaan dari Allah SWT dan berada dalam derajat yang dekat dengan-Nya.

Alangkah indahnya bila kita selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi Surga-Nya, meskipun masih hidup di dunia...

KIAMAT AKAN DATANG TAHUN 2012 ?

Beberapa hari yang lalu ada berita di salah-satu stasiun tv swasta nasional yang membahas kiamat akan terjadi pada tanggal 21 Desember 2012.

Kenapa bisa memprediksi seperti itu ?

Menurut Para Ilmuwan puncak aktivitas matahari akan terjadi pada tahun 2012 tepatnya pada tanggal 21 Desember, Pada tanggal tersebut akan terjadi ledakan di dalam pusat Matahari yang jelas efeknya akan terjadi pada planet sekitarnya termasuk juga bumi yang kita diami.

Efek yang paling ringan terhadap Bumi adalah semua teknologi seperti satellite, jaringan listrik, telekomunikasi dan yang lainnya akan lumpuh total di seluruh dunia. Manusia akan memasuki episode baru yaitu abad kegelapan dimana semua fasilitas yang berbau teknologi informasi akan punah dikarenakan efek dari ledakan matahari. Efek yang paling hebat adalah dimana semua planet disekitar matahari akan saling berbenturan dan tidak akan lagi dalam pusat rotasi, inilah yang predikisikan oleh para ilmuwan dimana akan terjadi kiamat.

Sumber lain mengatakan seperti di buku "Apocalypse 2012" karya Lawrence E. Joseph : Pada tahun 2012 akan terjadi banyak bencana melanda di banyak Negara atau bisa disebut banyak bencana mengglobal di seluruh dunia. Diperkuat oleh banyak Ramalan termasuk ramalan Suku Maya kuno dari Meksiko : Bahwa pada tahun 2012 akan ada meteor besar yang jatuh ke Bumi.

Benarkah semua Prediksi itu ?

Dalam pandangan Islam, Kiamat pasti terjadi dan akan terjadi, itu termasuk Rukun Iman, yakni Beriman kepada Hari Akhir. Tanda-tanda secara umum Hari Kiamat dalam pandangan islam saat ini sudah terjadi, seperti diantaranya : Datangnya Nabi akhir Zaman, Banyaknya bencana di sana-sini, Penyakit-penyakit baru dan aneh yang belum ada obatnya, serta masih banyak lagi tanda-tanda umum lainnya.

Tapi tanda-tanda Khusus belum ada, yakni :

- Datangnya Dajjal atau menurut versi barat adalah Luciffer, untuk merusak semua tatanan kehidupan di bumi.
- Datangnya Yajujj Majujj.
- Turunnya Isa al masih (versi Islam), Jesus Kristus atau Jesus from Nazareth (versi Kristiani), Joshua (versi Yahudi).

Dalam pandangan islam akan turun Isa al masih untuk meluruskan ajaran yang di bawanya, membenarkan Muhammad adalah nabi akhir jaman dan menghancurkan Dajjal beserta para pengikutnya.

Dari semua prediksi dan pandangan tersebut, kita sebagai Manusia tidak akan pernah bisa dan sanggup menentukan secara pasti "Kapan Kiamat akan Datang".

Semuanya itu adalah rahasia Sang Pencipta dan Penguasa Alam, Allah 'aza Wajalla...

Saturday, 25 July 2009

ICMI DESAK CINA UNTUK LINDUNGI WARGA MUSLIM

JAKARTA -- Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) mengingatkan agar Pemerintah Cina tak menerapkan pendekatan keamanan dalam menyelesaikan peristiwa kerusuhan di Urumqi, Provinsi Xinjiang, Cina, yang melibatkan kaum Muslim Uighur.

''Kami minta Pemerintah Cina selalu mengedepankan hak asasi manusia (HAM) serta memberikan jaminan pada kelompok-kelompok minoritas di sana, khususnya kaum Muslim Uighur,'' ungkap Azyumardi Azra, salah seorang Presidium ICMI saat menerima Utusan Khusus Menlu Cina, Chen Shiqiu, di kantor ICMI, Jakarta, Jumat (24/7).

Chen bertandang ke ICMI didampingi sejumlah pejabat dan diplomat Cina. Delegasi Pemerintah Cina itu bertujuan untuk menjelaskan peristiwa kerusuhan yang melibatkan Muslim Uighur di Kota Urumqi, Xinjiang, Cina. Menurut Chen, kerusuhan yang menewaskan 190 orang itu bukanlah masalah etnis atau masalah agama.

''Peristiwa itu memiliki latar belakang politis yang sangat dalam. Jadi, bukan terkait masalah etnis atau persoalan agama,'' papar Chen. Menanggapi pernyataan Chen, Azyumardi menegaskan, jika pemerintah Cina terlalu menggunakan pendekatan keamanan, justru akan menciptakan kekerasan yang sulit dihilangkan.

ICMI meminta agar Pemerintah Cina menggunakan pendekatan dialogis dalam menghadapi masalah dengan umat Muslim di negeri Tirai Bambu itu. ''Pendekatan dialogis antara Pemerintah Cina dan tokoh-tokoh Muslim di Xinjiang dilakukan, bahkan harus pula melibatkan masyarakat madani di sana,'' ujar Azyumardi menegaskan.

Azyumardi juga berharap agar ada pemerataan bagi masyarakat atau kaum Muslim di Cina terkait hasil bumi dan hasil alam. ''Saya dengar, Xinjiang itu kaya kandungan minyak bumi dan gas alam. Jika tidak terjadi pemerataan, tentunya akan menimbulkan kecemburuan,'' tuturnya.

Sehari sebelumnya, utusan khusus Cina itu berkunjung ke kantor PP Muhammadiyah, Jakarta. Dalam pertemuan itu, Ketua Umum PP Muhammadyah, Din Syamsudin, meminta agar Pemerintah Cina menghargai hak-hak beragama kaum Muslim Uighur di Cina. ''Memang, masalah di Xinjiang merupakan masalah domestik. Kami berharap cara-cara penanganan yang dilakukan Pemerintah Cina menghargai HAM, hak beragama, serta hak hidup,'' ungkap Din.

Saturday, 18 July 2009

DUA SYARAT HIDUP TENANG

''Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami adalah Allah', kemudian meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, 'Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih'.'' (QS Fushshilat [41]: 30).

Mungkinkah kita bisa benar-benar hidup tenang, sedangkan impitan ekonomi dan beban hidup terasa begitu berat? Jawabannya, ''Ya.'' Kita bisa hidup tenang, tanpa perlu merasa takut dan sedih, hanya dengan menjalankan dua syarat.Pertama, percaya kepada Allah SWT dengan sepenuh hati. Kedua, istiqamah dalam kebaikan. Demikianlah yang dijanjikan Allah SWT di dalam surat di atas.

Di dalam tafsirnya, Imam ar-Razi menjelaskan, ketenangan jiwa hanya bisa diraih dengan kebenaran hakiki dan amal saleh. Puncak kebenaran hakiki adalah mengenal Allah SWT. Sementara puncak amal saleh adalah istiqamah.Mengenal Allah SWT berarti mengetahui dan meyakini betul segala sifat dan nama baik (asmaul husna) yang dimiliki-Nya. Dengan demikian, seseorang tak akan lagi merasa khawatir dalam menghadapi hidup ini.

Sebab, ada Allah Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang, Yang Maha Pemberi Rezeki, Yang Maha Pemurah, yang telah menjamin makanan dan keamanannya. Dalam konteks ini berlaku prinsip pantulan bola, yaitu semakin keras bola dilemparkan, semakin keras pula bola itu memantul. Artinya, semakin besar keyakinan dan kepercayaan kita terhadap Kemahakuasaan dan Kemahamurahan Allah SWT, semakin besar pula kasih sayang dan kemurahan Allah SWT kepada kita.

Ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam hadis qudsi, ''Sesungguhnya Aku tergantung sangkaan hamba-Ku kepada-Ku.'' (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Setelah mengenal Allah SWT, yang dituntut kemudian adalah istiqamah. Imam ar-Razi menyebutkan, yang dimaksud istiqamah di sini adalah konsistensi melakukan amal saleh, baik itu di saat lapang maupun sulit.

Sebab, amal saleh tidak bergantung pada situasi atau kondisi tertentu. Kapan dan di manapun, seorang Muslim yang berharap ridha Allah SWT pasti akan melakukan amal saleh. Rasulullah SAW menegaskan, ''Amal saleh yang paling disukai oleh Allah adalah yang dilakukan terus-menerus sekalipun itu sedikit.'' (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasai, dll).

Bila seorang Muslim percaya kepada Allah SWT dengan sepenuh hati dan istiqamah dalam kebaikan, niscaya Allah SWT akan memberinya kehidupan tenang, berupa malaikat-malaikat yang turun membisikkan ke dalam hatinya kalimat penyemangat, ''Jangan khawatir dan bersedih hati. Sebab, akan banyak keajaiban yang pasti menghampiri.''

ABU NAWAS PENYAIR ANDAL DINASTI ABBASIYAH

Seorang penyair muda berpenampilan nyentrik itu memang layak dikenang. Rambutnya ikal, panjang bergelombang terurai hingga ke bahu. Karena penampilannya itu, ia dijuluki Abu Nawas (si rambut ikal panjang). Nama aslinya adalah al-Hasan ibn Hani al-Hakami. Ia tumbuh dari keluarga kelas bawah, namun karya-karyanya mewakili kelompok penyair papan atas di zamannya.


Dia seorang penyair yang jenius, kritis, liar, slengean, menjengkelkan (bagi sebagian orang), tetapi juga religius. Dikatakan jenius, karena dalam sejarah kepenyairan Arab, dirinya adalah tonggak baru yang memisahkan puisi sebelum dan sesudahnya.

''Ia memasukkan unsur-unsur modern dalam karya-karyanya. Dia membangun imajinasi kehidupan kota, seperti anggur, jalanan, gedung-gedung, wanita, dan anak laki-laki 'piaraan', ke dalam puisi. Para penyair sebelumnya lebih senang mengambil objek desa. Dia yang pertama menulis puisi seks dan homoseksualitas,'' kata Adonis, sastrawan Arab modern, mengomentari karya-karya Abu Nawas.

Ketika masih belia, puisi-puisi Abu Nawas banyak bertutur tentang khamar (tuak atau minuman keras). Salah satunya adalah puisi khumrayat (penggambaran tentang minuman keras). Ia menggambarkan tentang kelezatan dan keburukan khamar, cara memerasnya, mengolahnya, hingga warna, aroma kelezatan rasa, dan kehidupan para peminumnya. Menurutnya, khamar dapat menenangkan hatinya yang gundah.

Dr Muhammad al-Nuwaihi dalam kitabnya Nafsiyyat Abi Nuwas menyebutkan Abu Nawas sangat tergantung pada minuman keras. Tingkah lakunya itu sungguh aneh. Maka, banyak orang yang mengatakan puisi-puisinya merupakan refleksi dari tingkah lakunya.

Tampaknya, Abu Nawas muda mewakili sisi lain dari kehidupan di zamannya. Tingkah lakunya yang berseberangan dengan ajaran agama, menunjukkan ada kehidupan sosial lain yang tidak tercatat dalam buku-buku sejarah. Zaman kegemilangan Islam era Dinasti Abbasiyah yang dikenal maju dalam ilmu pengetahuan dan ilmu-ilmu agama, juga diwarnai dengan kehidupan gelap. Di sini, Abu Nawas secara jujur dan apa adanya mengungkapkan sisi gelap itu.

Apakah puisi-puisi Abu Nawas muda menyesatkan? Bagi sebagian orang mungkin ya, tetapi bagi sebagian yang lain ternyata tidak. Adonis, contohnya. Penyair asal Suriah yang bernama asli Ali Ahmad Said ini mengungkapkan tidak ada puisi Arab yang menyesatkan.

''Berkali-kali membaca puisi Arab, saya tidak melihat ada kesesatan. Sebaliknya, puisi memberi kebenaran mendalam. Ada keharmonisan hubungan antara kata-kata dan benda, antara manusia dan alam. Puisi membuka cakrawala manusia tanpa batas,'' katanya.

''Penyair harus punya sesuatu yang bergolak dalam dirinya. Untuk menulis puisi, manusia harus hidup di dalam puisi. Ungkapan seorang penyair amat berbeda dengan cara pemikir, filsuf, alim ulama, atau ahli agama. Saat melihat jendela, seorang pemikir berkata jendela ini persegi panjang. Tapi, penyair bisa bilang jendela adalah perempuan yang membentangkan kedua tangannya,'' tambahnya.

Adonis juga mengutarakan bahwa senjata penyair adalah kebebasan. Orang yang tidak dapat lepas dari kungkungan eksternal ataupun internal, tidak akan mungkin menjadi penyair. Selama orang segan menyatakan apa yang ada dalam dirinya, ia tidak akan dapat berpuisi. Ia mencontohkan, seksualitas yang mungkin tidak bisa diutarakan oleh orang yang taat beragama, karena hal itu baginya tabu untuk diungkapkan.

Abu Nawas tidak segan-segan mempuisikan apa yang ia lakukan dan rasakan. Karena itu, tudingan-tudingan seperti penyair zindik atau pendosa besar sering dialamatkan kepadanya. Apa yang dikatakan oleh Adonis bahwa senjata seorang penyair adalah kebebasan, menjadikan Abu Nawas tampak melampaui batas kesopanan dan merendahkan ajaran agama.

Hilangnya aroma Tuak


Tak pernah ada kata terlambat untuk bertobat. Itulah salah satu pelajaran penting yang diajarkan Abu Nawas. Masa mudanya memang diwarnai dengan gaya hidup penuh maksiat. Namun, di masa tuanya, sang penyair berubah menjadi seorang sufi. Penyesalan dan pertobatannya dia ungkapkan lewat puisi-puisinya yang bertema zuhdiyat (kehidupan zuhud). Seorang sahabatnya, Abu Hifan bin Yusuf bin Dayah, memberi kesaksian, di akhir hayat Abu Nawas mengisi kehidupannya dengan ibadah.

Apa gerangan yang membuat Abu Nawas bertobat? Ada yang berpendapat karena dia dijebloskan ke dalam penjara oleh Khalifah al-Ma'mun, setelah menikmati masa kejayaan bersama Khalifah Harun al-Rashid dan Khalifah al-Amin. Al-Ma'mun tidak bisa memberikan toleransi pada karya-karya Abu Nawas yang vulgar, mengumbar kesenangan dan nafsu seksual.

Sejak ia dipenjarakan, puisi-puisinya berubah menjadi religius. Kenakalan dan aroma kendi tuak dalam puisinya yang khas meluntur, seiring dengan kepasrahannya kepada kekuasaan Allah. Puisi-puisi tuaknya digantikan dengan puisi pertobatan kepada Yang Mahakuasa.

Pada masa ini, puisi dan syair yang ditulisnya terdiri atas beberapa tema. Ada yang bertema pujian (madah), sati re (hija’), zuhud (zuhdiyat), bahaya minum khamar (khumriyat), cinta (hazaliyat), serta kejenakaan (mujuniyah). Syairsyair religiusnya dikenal dan dibaca di seantero jagad Islam. Dari masjid-masjid dan surausurau di Nusantara. Salah satu syair zuhdiyat Abu Nawas terus berkumandang:

Ilahi, lastu lilfirdausi ahla. Wala aqwa ‘ala naril jahimi Fahab li tawbatan waghfir dzunubi. Fainnaka ghafirud Zanbil azimi. (Tuhanku, hamba tidaklah pantas menjadi penghuni surga. Namun, hamba juga tidak kuat akan panas api neraka. Maka, berilah hamba ampunan atas dosa-dosa hamba. Karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Mahaagung) Puisi pertobatan itu diakhiri dengan kata-kata, ‘’Jika Engkau meng ampuni dosa-dosaku, sung guh Engkau adalah Zat Yang Ma ha pengampun. Tetapi, jika Eng kau menolaknya, lantas kepada siapa aku harus mengadu.’’ rid/berbagai sumber

Dari Istana ke Penjara

Abu Nawas dipandang oleh kalangan penyair modern sebagai penyair Arab klasik terbesar. Sederet nama sastrawan beken semacam Omar Kayam dan Hafiz—dua sastrawan Islam kondang—diketahui banyak mendapat pengaruh dari Abu Nawas.

Tak mengherankan jika puisi-puisi penyair nyentrik ini kemudian diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan tersebar di berbagai belahan dunia. Salah satu karyanya dialihbaha sakan ke dalam bahasa Inggris berjudul O Tribe That Loves Boysoleh Hakim Bey dan diterbitkan Entimos Press pada 1993.

Jaafar Abu Tarab juga menerjemahkan karya Abu Nawas berjudul Carousing With Gazelles. Jim Colville menerjemahkan Poems of Wine and Revelry: The Khamriyyat of Abu Nuwas. Di mata para sastrawan Barat, Abu Nawas tampak begitu istimewa. Philip F Kennedy, misalnya, secara khusus menulis The Wine Song in Classical Arabic Poetry: Abu Nuwas and the Literary Tradition, yang diterbitkan Open University Press tahun 1997. Pada 2005, Penerbit OneWorld Press menerbitkan buku karya Philip Kennedy berjudul Abu Nuwas: A Genius of Poetry.

Dalam kitab Al-Wasith fil Adabil Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, jenaka, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun, di Indonesia ia lebih dikenal sebagai orang aneh yang bertingkah lucu dan konyol.

Keistimewaan Abu Nawas tidak lahir begitu saja, tetapi terasah sejak dirinya masih belia. Ia diperkirakan lahir antara tahun 747 hingga 762 M. Ada yang memastikan, ia lahir pada 738 M di Ahwaz, Persia. Ayahnya seorang Arab bernama Hani, anggota tentara Marwan bin Muhammad atau Marwan II, khalifah terakhir Dinasti Umayyah di Damaskus. Sementara ibunya, dari Persia bernama Golban atau Jelleban, yang kesehariannya bekerja sebagai penenun.

Konon, sejak lahir hingga tutup usia, Abu Nawas tak pernah bertemu dengan sang ayah. Kemiskinan memaksa ibunya menjual Abu Nawas kecil kepada seorang penjaga toko dari Yaman bernama Sa’ad Al-Yashira. Abu Nawas muda bekerja di toko grosir milik tuannya di Basrah, Irak. Sejak remaja, otak Abu Nawas terkenal encer. Ini menarik perhatian Walibah ibnu Al-Hubab, seorang penulis puisi berambut pirang. Al-Hubab pun memutuskan untuk membeli dan membebaskan Abu Nawas dari tuannya.

Al-Hubab mendidiknya dalam disiplin teologi, tata bahasa Arab, dan puisi. Sejak itulah, Abu Nawas begitu tertarik dengan dunia sastra. Ia kemudian menimba ilmu dari Khalaf Al-Ahmar di Kufah. Sang guru memerintahkannya untuk berdiam di padang pasir bersama orang-orang badui, untuk mendalami dan memperhalus pengetahuan bahasa Arabnya selama satu tahun. Setelah itu, dia hijrah ke Baghdad yang merupakan kota metropolitan era kejayaan Islam di bawah Khalifah Harun Al-Rasyid.

Karier Abu Nawas di dunia sastra makin menanjak setelah kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun Al-Rasyid. Melalui perantara musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas akhirnya diganjar predikat sebagai sya’irul bilad(penyair negeri). Puncak kariernya terjadi pada masa khalifah Al-Amin. Kebanyakan karya Abu Nawas lahir pada periode ini. Akan tetapi, hampir semua puisinya berorientasi pada pemujaan terhadap Khalifah.

Kemesraan Abu Nawas dengan pihak kerajaan tidak selamanya mulus. Setelah Al-Amin mangkat dan digantikan oleh Al-Ma’mun, Abu Nawas berada dalam masalah besar.

Al-Ma’mun tidak bisa memberikan toleransi kepada Abu Nawas yang gemar membuat puisi erotis, jorok, bahkan melawan ajaran agama. Al-Ma’mun menjebloskan Abu Nawas ke penjara. Pendapat lain menyatakan dipenjarakannya Abu Nawas karena ia menghina Ali bin Abi Thalib.

Namun justru penjara menjadi tempat tumbuhnya gairah spiritual Abu Nawas. Ia berubah menjadi seorang sufi. Menurut Zonbor, sekretaris Sultan, Abu Nawas hanya berpura-pura tobat karena mengharapkan ampunan dari Sultan. Diperkirakan, Abu Nawas menghabiskan hidupnya di dalam penjara. rid/berbagai sumber

GIAT SAAT FAKIR

Kefakiran harta sering diidentikkan dengan kehinaan. Karakter rendah diri, merasa tak berdaya, hingga menghinakan diri sendiri, sering menjangkiti mereka yang dilanda kefakiran. Akumulasi karakter itu akan mengempaskan pada jurang keputusasaan. Kegairahan untuk bangkit dan berjuang pun hilang. Langkah nyata menghindarkan diri dari keterpurukan pun tak akan kembali muncul.

Kegairahan hidup harus terpelihara, walau di tengah kefakiran. Kefakiran mesti menjadi daya pengungkit bagi tercapainya kehidupan yang lebih baik. Perasaan hina karena kefakiran harus ditumbangkan, karena sangat tidak beralasan.Islam pun tidak mengenal perspektif demikian. Karena kehinaan bukan milik si fakir, tapi mereka yang tidak beriman dan tak menaati Allah SWT.

''Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barang siapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahanamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar.'' (QS Attaubah [9]: 63).Untuk menjaga kegairahan hidup, Islam memandang bahwa mereka yang fakir sebagai makhluk yang dicintai Allah SWT. Kefakiran bukanlah azab yang dilaknat, tapi ujian yang dapat mendatangkan kebaikan.

Seperti sabda Rasulullah SAW, ''Sesungguhnya makhluk yang paling dicintai oleh Allah adalah orang-orang yang fakir, karena makhluk yang paling dicintai Allah adalah para Nabi, maka Allah menguji mereka dengan kefakiran.''Rasulullah SAW pun bermunajat agar dimatikan bersama orang fakir. Seperti yang diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri, ''Ya Allah, matikanlah aku sebagai orang yang fakir dan jangan matikan aku sebagai orang kaya. Kumpulkanlah aku nanti pada hari kiamat dalam rombongan orang-orang miskin.''

Sabda Rasulullah SAW itu bukan meninabobokan agar nyaman bersama kefakiran. Lalu, lari dari hidup yang berkecukupan. Namun, untuk mengembalikan harga diri dan kepercayaan diri, di tengah penghinaan dan pengucilan manusia yang menilai kemuliaan dari keberlimpahan harta.

Janji Allah SWT dan Rasulullah SAW yang selalu bersamanya, mencintainya, dan membelanya, hendaknya menjadi pemulih optimisme dalam mengarungi kefakiran.Ini juga menjadi modal untuk menggiatkan kemauan berusaha, bekerja lebih keras, juga kreatif. Seperti giatnya sahabat yang fakir di masa Rasulullah SAW saat berkompetisi dengan sahabat yang berharta dalam mengisi kehidupan, dengan karya-karya sesuai kemampuan mereka.

Tetap produktif, berkontribusi, dan tak membebani orang lain telah menjadi karakter mereka. Kefakiran bukanlah penghambat, tapi penyemangat untuk berebut kebaikan dan pahala di tengah keterbatasan. Karena di tengah keterbatasanlah, segalanya lebih dilipatgandakan oleh Allah Yang Mahakaya.

Sunday, 12 July 2009

LEBIH DARI 1000 ORANG MUSLIM UIGHUR (CHINA) DIPERKIRAKAN TEWAS

Jam malam diberlakukan, ribuan orang eksodus dari Urumqi.

WASHINGTON - Pemimpin masyarakat Uighur dari wilayah Xinjiang di bagian barat laut Cina di pengasingan mengatakan, ribuan orang mungkin telah tewas dalam kekerasan di wilayah tersebut dalam beberapa hari belakangan ini. Rebiya Kadeer, pemimpin Kongres Uighur Dunia, yang bermarkas di Washington, mengatakan sulit untuk mengajukan angka korban secara komprehensif dari wilayah itu, tempat kelompok etnik asli Uighur telah lama mengeluhkan tekanan. "Menurut laporan-laporan yang belum dikonfirmasikan yang kami peroleh di wilayah itu, sekarang jumlah korban mencapai 1.000 atau beberapa orang mengatakan 3.000," kata Rebiya pada konferensi pers di Gedung Capitol AS, Sabtu (11/7) atau Jumat waktu setempat. Menurut Rebiya, kematian itu terjadi tidak hanya di ibu kota Xinjiang, Urumqi, tapi di seluruh wilayah yang sangat luas tersebut. "Banyak pembunuhan di beberapa kota yang berbeda seperti di Kashgar," katanya. Kadeer, yang telah menghabiskan sekitar enam tahun di sebuah penjara di Cina sebelum dibebaskan di bawah tekanan AS pada 2005, memperkirakan, 5.000 orang lagi telah dipenjarakan.

Menurut versi Pemerintah Cina, 156 orang telah tewas dan lebih dari 1.000 orang terluka dalam kerusuhan di Urumqi, Ahad (5/7) lalu. Menurut kantor berita resmi Xinhua, kemarin, jumlah korban tewas meningkat menjadi 184 orang. Diantara mereka yang tewas, 137 adalah orang Han, yang mencakup 111 pria dan 26 wanita. Sebanyak 46 korban adalah warga Uighur, yang terdiri atas 45 pria dan satu wanita. Seorang pria Hui juga tewas," kata kantor berita itu mengutip pemerintah daerah setempat. Menurut Pemerintah Cina, korban berjatuhan ketika orang-orang Uighur menyerang orang-orang dari kelompok etnik Han - yang dominan di Cina.

Namun, Rebiya mengatakan, pasukan keamanan telah bertindak terlalu berlebihan pada pengunjuk rasa damai itu dan menggunakan kekuatan yang mematikan. Beijing menuduh orang-orang di pengasingan telah membesar-besarkan jumlah korban tewas dan menimbulkan kekerasan--tuduhan yang dibantah oleh Rebiya.
"Saya menentang semua kekerasan. Saya tidak melakukan itu dan saya tidak akan melakukan hal seperti itu," tegas Rebiya.

Eksodus Larangan keluar rumah, kemarin, kembali diterapkan di Kota Urumqi, Cina, setelah warga tidak menggubris larangan shalat di masjid. Masjid-masjid di kota diperintahkan ditutup pada Jumat lalu, tapi setidaknya dua masjid tetap dibuka atas permintaan massa warga Muslim Uighur yang berkumpul di luar. Suasana Kota Urumqi tetap tegang setelah pecahnya tindak kekerasan etnis itu. Ribuan warga, baik dari kalangan etnik Han maupun Uighur, dilaporkan mencoba eksodus dari kota tersebut. Pihak berwenang menyediakan pelayanan bus tambahan untuk perjalanan keluar dari Urumqi, namun permintaan karcis telah melampaui jumlah tempat duduk yang ada. "Terlalu berisiko tinggal di sini. Kami takut akan kekerasan," kata Xu Qiugen, pekerja bangunan berusia 23 tahun asal Cina tengah yang lima tahun tinggal di Urumqi dan telah membeli karcis untuk pergi bersama istrinya.

Kekerasan di Xinjiang itu telah memancing kecaman dari banyak pihak di luar Cina, seperti Turki, Belanda, Australia, dan Amerika Serikat (AS). Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut kerusuhan etnis di Provinsi Xinjiang, Cina, itu semacam genosida. "Tidak ada kata lain untuk mengomentari peristiwa itu, kecuali genosida," kata Erdogan. Gelombang pawai protes juga muncul di berbagai kota dunia, seperti Ankara, Berlin, Canberra, dan Istanbul.

Orang-orang Uighur di pengasingan mengklaim bahwa pasukan keamanan Cina bereaksi terlalu berlebihan atas protes damai. Bersama-sama Tibet, Xinjiang merupakan salah satu kawasan paling rawan politik. Pemerintah Cina berusaha mengendalikan kehidupan beragama dan kebudayaan sambil menjanjikan pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran. (afp/bbc/rtr/ant/ayh)